Selasa, 13 Desember 2016

Penjelasan dan Ilustrasi Tentang Berbagai Teknik Pembelajaran



Tugas Strategi Belajar Mengajar
Penjelasan dan Ilustrasi Tentang Berbagai Teknik Pembelajaran
1.    Teknik Pembelajaran Inquiry
Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Pembelajaran inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam pembelajaran ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Pembelajaran ini sering juga dinamakan pembelajaran heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti “saya menemukan”.
Ciri-ciri Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri   memiliki beberapa ciri, di antaranya:
1)   Pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan. Artinya, pada pembelajaran inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
2)   Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).
3)   Tujuan dari pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini:
1)   Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
2)   Prinsip Interaksi
3)   Prinsip Bertanya
4)   Prinsip Belajar untuk Berpikir
5)   Prinsip Keterbukaan
Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
Proses pembelajaran inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1)   Merumuskan masalah;
a.    Kesadaran terhadap masalah
b.    Melihat pentingnya masalah
c.    Merumuskan masalah
2)   Mengembangkan hipotesis;
a.    Menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh
b.    Melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis
c.    Merumuskan hipotesis
3)   Menguji jawaban tentatif;
a.    Merakit peristiwa
Ø Mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan
Ø Mengumpulkan data
Ø Mengevaluasi data
b.    Menyusun data
Ø Mentranslasikan data
Ø Menginterpretasikan data
Ø Mengkasifikasikan data
c.    Analisis data
Ø Melihat hubungan
Ø Mencatat persamaan dan perbedaan
Ø Mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan keteraturan.
4)   Menarik kesimpulan;
a.    Mencari pola dan makna hubungan
b.    Merumuskan kesimpulan
5)   Menerapkan kesimpulan dan generalisasi
Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena  memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
1)   Pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang,  sehingga pembelajaran melalui pembelajaran ini dianggap jauh lebih bermakna.
2)   Pembelajaran ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
3)   Pembelajaran ini merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
4)   Keuntungan lain adalah dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Di samping memiliki keunggulan, pembelajaran ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
1)   Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2)   Sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
3)   Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
4)   Selama kriteria keberhasiJan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka  strategi  ini tampaknya akan sulit diimplementasikan.

2.    Teknik Pembelajaran Konstruktivisme
Model pembelajaran konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Konstruktivisme merupakan pandangan filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Giambatista Vico tahun 1710, ia adalah seorang sejarawan Italia yang mengungkapkan filsafatnya dengan berkata ”Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Dia menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat sesuatu”. Ini berarti bahwa seseorang baru mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu (Suparno, 1997:24).
Konstruktivisme dalam pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental, membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif yang dimilikinya. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar dan mengajar lebih berfokus terhadap suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman mereka. Menurut Werrington (dalam Suherman, 2003:75), menyatakan bahwa dalam kelas konstruktivis seorang guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun mempresentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika siswa memberikan jawaban, guru mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun guru mendorong siswa untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat masuk akal siswa.
Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu sebagai berikut:
1)   Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
2)   Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia.
3)   Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman.
4)   Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil:
1)   Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial;
2)   Pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar;
3)   Siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah;
4)   Guru berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran Konstruktivisme
1)   Tanya Jawab (questioning)
a.    Menggali informasi
b.    Mengecek pemahaman siswa
c.    Membangkitkan respon kepada siswa
d.   Mengetahui sejauh mana keinginan siswa
e.    Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
f.     Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
g.    Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
h.    Menyegarkan kembali pengetahuan siswa
2)   Penyelidikan/Menemukan (Inquiry)
a.    Perumusan masalah
b.    Pengembangan hipotesis
c.    Pengumpulan data
d.   Pengolahan data
e.    Pengujian hipotesis
f.     Penarikan kesimpulan
3)   Komunitas Belajar (Learning Community)
a.     Siswa didorong dan diberi motivasi agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep dari pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang akan dibahas.
b.     Siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep-konsep dan permasalahan-permasalahan melalui pengumpulan dan pengorganisasian dan penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang guru.
c.     Siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada observasinya ditambah dengan penjelasan-penjelasan guru untuk menguatkan pengetehuan siswa yang telah mereka bangun, maka siswa membangun pengetahuan dan pemahaman baru tentang konsep yang sedang dipelajari.
d.     Guru berusaha menciptkan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat mengaplikasikan pemahaman konsepnya tentang topik pelajaran saat itu.
Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Konstruktivisme
Keuntungan yang terdapat dalam penggunaan model konstruktivisme yaitu :
1)    Dapat memberikan kemudahan kepada siswa dalam mempelajari konsep pembelajaran.
2)    Melatih siswa berpikir kritis dan kreatif.
Kelemahan pembelajaran konstruktivisme adalah :
1)    Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.
2)    Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
3)    Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa.

3.    Teknik Pembelajaran Sets atau Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Mayarakat
Kata SETS (Science Environment Technology and Society) dapat dimaknakan sebagai sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat, merupakan satu kesatuan yang dalam konsep pendidikan mempunyai implementasi agar anak didik mempunyai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). Pendidikan SETS dapat diawali dengan konsep-konsep yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar kehidupan sehari-hari peserta didik atau konsep-konsep rumit sains maupun non sains. Tujuan Pendidikan SETS adalah untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangan sains, teknologi-teknologi yang digunakannya, dan bagaimana perkembangan sains serta teknologi mempengaruhi lingkungan serta masyarakat. Pendidikan SETS berupaya memberikan pemahaman tentang peranan lingkungan terhadap sains, teknologi, masyarakat. Sebaliknya peranan masyarakat terhadap arah perkembangan sains, teknologi dan keadaan lingkungan. Termasuk juga peranan teknologi dalam penyesuaiannya dengan sains, manfaatnya terhadap masyarakat dan dampak-dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Tidak ketinggalan peranan sains untuk melahirkan konsep-konsep yang berdaya guna positif, keterlibatannya pada teknologi yang dipakai maupun pengaruhnya terhadap masyarakat dan lingkungan secara timbal balik.
Pengertian Pendekatan SETS Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan saling temas yang merupakan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Asyari mengartikan pendekatan SETS sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran sains yang mengaitkan dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat sekitar. Pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangan dan aplikasi konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membahas tentang hal-hal yang bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat dibahas, dan dapat dilihat. Menurut podjiaji (dalam Tistanti) pembelajaran Sains Lingkungan Teknologi dan Masyarakat pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat sekitar serta merupakan wahana untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi. Berdasarkan hal tersebut siswa diharapkan dapat menerapkan pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk membuat teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Hubungan timbal balik unsur-unsur SETS menurut Asy’ari, Masyarakat Ilmu Lingkungan (Science) Teknologi berdasarkan keterkaitan antara sains, lingkungan teknologi dan masyarakat. Masing-masing unsur dalam pendekatan SETS tidak dapat dipisahkan. Penerapan pendekatan SETS Fokus pendekatan SETS meliputi belajar di (in), untuk (for), tentang (about) lingkungan, dengan mencoba menemukan dan mengungkap penyebab permasalahan serta kemungkinan yang dapat menyebabkan permasalahan lingkungan masa mendatang. Dalam hal ini diutamakan pada dampak-dampak yang timbul akibat sains dan teknologi dalam usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pendekatan SETS menekankan pada peserta didik untuk learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together. Siswa aktif dalam pembelajaran dan guru berfungsi sebagai fasilitator. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membelajarkan SETS di sekolah yaitu :
1)   Topik yang dipilih hendaknya memunculkan sains yang telah dikenal dalam kurikulum dan dititik beratkan pada keterkaitan hubungan dengan teknologi, lingkungan maupun masyarakat.
2)   Hendaknya diberikan materi pengajaran yang dapat menyentuh rasa kepedulian tentang keberadaan sains, teknologi, dan masyarakat sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisah.
3)   Pemilihan materi ajar hendaknya yang dapat membawa peserta didik sadar ilmu pengetahuan (sains), mengeterapkan teknologi dan berbagai dampaknya terhadap lingkungan baik positif maupun negatif sehingga timbul kepedulian dan rasa tanggung jawab siswa dalam memecahkan masalah lingkungan dan masyarakat.
4)   Bahan evaluasi hendaknya menerapkan sains, teknologi, masyarakat, dan lingkungan yang relevan bagi siswa.
Adapun karakteristik pemebelajaran SETS menurut Yager dalam (Tristanti) sebagai berikut :
1)      Berawal dari identifikasi masalah lokal.
2)      Penggunaan sumber daya setempat.
3)      Keikutsertaan siswa aktif dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
4)      Penekanan pada keterampilan proses yang dapatdigunakan siswa dalam pemecahan masalah.
5)      Adanya kesempatan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman memecahkan masalah yang telah diidentifikas berorientasi pada siswa.
Berdasarkan karakteristik tersebut, guru hendaknya dapat menggiring siswa untuk berpikir aktif dalam upaya pemecahan masalah lokal yang berangkat dari pengalaman keseharian siswa. Penerapan SETS dalam pembelajaran oleh guru hendaknya dimunculkan berbagai variasi pemebelajaran yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut. Setiap siswa berpeluang untuk memunculkan solusi pemecahan masalah yang berbeda-beda.
Tahap-tahap pendekatan SETS Secara operasional National Science Teacher Association menyusun tahapan pembelajaran sains dengan pendekatan SETS sebagai berikut :
1)   Tahap invitasi pada tahap ini guru memberikan isu/ masalah aktual yang sedang berkembang di masyarakat sekitar yang dapat dipahami peserta didik dan dapat merangsang siswa untuk mengatasinya. Guru juga bisa menggali pendapat dari siswa yang ada kaitannya dengan materi yang akan dibahas.
2)   Tahap eksplorasi Siswa melalui aksi dan reaksinya sendiri berusaha memahami atau mempelajari masalah yang diberikan.
3)   Tahap solusi Siswa menganalisis dan mendiskusikan cara pemecahan masalah.
4)   Tahap aplikasi Siswa diberi kesempatan untuk menggunakan konsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.
5)   Tahap pemantapan konsep guru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa.
Kelebihan SETS Menurut Ismail pendekatan SETS memiliki keunggulan sebagai berikut :
1)   Menghindari materi oriented dalam pendidikan tanpat tahu masalah-masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional.
2)   Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era globalisasi.
3)   Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah-masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat secara integral baik di dalam ataupun di luar kelas.
4)   Pengajaran sain lebih bermakna karena langsung berkaitan dengan permasalahan yang muncul di kehidupan keseharian siswa tentang pernanan sains dalam kehidupan nyata.
5)   Meningkatkan kemampuan siswa untuk mengaplikasikan konsep, ketrampilan, proses, kreativitas, dan sikap meghargai produk teknologi serta bertanggung jawab atas masalah yang muncul di lingkungan.
6)   Kegiatan kelompok dapat memupuk kerjasama antar siswa dan sikap toleransi dan saling menghargai pendapat teman.
7)   Mengaplikasikan suatu gagasan atau penciptaan suatu karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat maupun bagi perkembangan sains dan teknologi.

4.    Teknik Pembelajaran Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah adalah sebuah metode  pembelajaran yang berupaya membahas permasalahan untuk mencari pemecahan  atau jawabannya. Sebagaimana metode mengajar, metode pemecahan masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada para siswa. Dengan metode ini, siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah. Model atau Metode pembelajaran berbasis masalah atau metode pemecahan masalah (Problem Solving) adalah sebuah metode pembelajaran yang berupaya membahas permasalahan untuk mencari pemecahan atau jawabannya. Sebagaimana metode mengajar, metode pemecahan masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada para siswa. Dengan metode ini, siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah.
Langkah-langkah Metode Pemecahan Masalah
Dalam garis besarnya langkah-langkah metode pemecahan masalah dapat disarikan sebagai berikut:
1)   Adanya masalah yang dipandang penting;
2)   Merumuskan masalah;
3)   Analisa hipotesa;
4)   Mengumpulkan data;
5)   Analisa data;
6)   Mengambil kesimpulan
7)   Aplikasi (penerapan) dari kesimpulan yang diperoleh;
8)   Menilai kembali seluruh proses pemecahan masalah.
Langkah-langkah penyelesaian masalah antara lain adalah :
1)      Memahami soal
2)      Memilih pendekatan atau strategi
3)      Menyelesaikan model
4)      Menafsirkan solusi
Kelebihan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah / Problem Solving
Kelebihan Menggunakan Metode pembelajaran Berbasis Masalah atau Metode Problem Solving :
1)      Pembelajaran berbasis masalah atau Problem Solving akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan.
2)      Dalam Problem Solving, peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.
3)      Metode Problem Solving dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

5.    Teknik Pembelajaran Diskusi
Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling bertukar informasi maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah, dimana setiap anak ingin mencari jawaban / penyelesaian problem dari segala segi dan kemungkinan yang ada. Metode diskusi adalah cara penyajian pembelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dengan menugaskan peserta didik atau kelompok belajara untuk melaksanakan percakapan ilmiah untuk mencari kebenaran dalam rangka mewujudkan tujuan pengajaran. Metode   diskusi   adalah format belajar mengajar yang menitik   beratkan kepada interaksi   antara anggota yang lain dalam suatu kelompok guna menyelesaikan tugas belajar secara bersama. Karena itu, guna  dituntut untuk mampu melibatkan keaktifan anak bekerjasama dan berkolaborasi dalam kelompok. Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
Langkah-langkah penggunaan metode diskusi adalah sebagai berikut:
1)   Taraf persiapan meliputi:
a.    Memilih dan menetapkan topik atau tema sekurang-kurangnya, mengidentifikasi masalah yang merupakan alternative untuk dipilih  dan didiskusikan.
b.    Mengidentifikasi dan menetapkan satu atau beberapa sumber bahan bacaan atau informasi yang hendak dipelajari oleh siswa, sehingga kalau memasuki arena diskusi  diharapkan telah membawa bahan pemikiran.
c.    Menetapkan atau menyediakan alternatif komposisi dan struktur komonikasi kelompok diskusi.
d.   Menetapkan atau menyediakan alternatif pemimpin diskusi pada guru atau siswa.
2)   Siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi memilih pimpinan diskusi (ketua, sekretaris, pelapor) mengatur tempat duduk, ruangan, dan sebagainya dengan bimbingan guru.
3)   Siswa berdiskusi dalam kelompoknya masing-masng, sedangkan guru berkeliling dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain, menjaga ketertiban, serta memberikan dorongan dan bantuan agar anggota kelompok berpartisipasi aktif dan diskusi dapat berjalan lancar. Setiap siswa hendaknya, mengetahui secara persis apa yang akan didiskusikan dan bagaimana caranya berdiskusi.
4)   Setiap  kelompok  harus melaporkan hasil diskusinya. Hasil diskusi dilaporkan ditanggapi oleh semua siswa, terutama dari kelompok lain. Guru memberikan ulasan atau penjelasan terhadap laporan tersebut.
5)   Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, sedangkan guru menyimpulkan laporan hasil diskusi dari setiap kelompok
Secara umum kelebihan dan kekurangan metode diskusi adalah sebaga berikut :
Kelebihan Metode Diskusi
6)   Merangsang kreativitas siswa dalam bentuk ide, gagasan – prakarsa, dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah.
7)   Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.
8)   Memperluas wawasan.
9)   Membina untuk terbiasa musyawarah untuk memperkuat dalam memecahkan.
Kekurangan Metode Diskusi
1)   Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
2)   Pembicaraan terkadang menyimpang, sehingga memerlukan waktu yang panjang.
3)   Mungkin dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri.

6.    Teknik Pembelajaran Tanya – Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa,  tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Sudirman (1987:120) yang mengartikan  bahwa “metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa,  tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.” Lebih lanjut dijelaskan  pula oleh Sudirman (1987:119)  menyatakan bahwa metode tanya jawab ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya. Sementara itu, dalam Petunjuk Teknis Kurikulum 1994 (1996:26) dinyatakatan bahwa “metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar atau menyajikan materi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode tanya jawab adalah:
1)   Materi menarik dan menantang serta memiliki nilai aplikasi tinggi.
2)   Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan  dengan banyak kemungkinan jawaban).
3)   Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaan jawaban-jawaban siswa.
4)   Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode tanya jawab adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara pengajuan-pengajuan pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk memahami materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk menghindari penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaan metode tanya jawab harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
1)      Merumuskan tujuan tanya jawab sejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku siswa.
2)      Mencari alasan pemilihan metode tanya jawab.
3)      Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.
4)      Menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
5)      Menyediakan kesempatan bertanya bagi siswa.
Prinsip Metode Tanya Jawab
1)   Penyebaran (distribution)
2)   Pemberian waktu berfikir (pausing)
3)   Penggunaan pertanyaan pelacak (probbing)
Adapun teknik pelacak yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
a.    Klasifikasi
b.    Meminta siswa memberikan alasan
c.    Meminta kesepakatan pandangan
d.   Meminta ketepatan jawaban
e.    Meminta jawaban yang lebih relevan
f.     Meminta Contoh
g.    Meminta jawaban yang lebih kompleks
Kelebihan Metode Tanya Jawab
1)   Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Bahkan siswa yang sedang ribut sekalipun, apabila guru melontarkan sebuah pertanyaan, biasanya keributan langsung berubah menjadi tenang kembali. Siswa yang mengantuk, biasanya segera kembali tegar dan hilang kantuknya.
2)   Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir termasuk daya ingatnya.
3)   Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
4)   Metode ini dapat mengetahui kemampuan berpikir siswa dan kesistematisannya dalam mengemukakan pokok-pokok pikiran dalam jawabannya.
5)   Metode ini dapat mengetahui sampai sejauh mana penguasaan siswa tentang apa yang sedang dan atau telah dipelajari. Dengan demikian, dapat pula dijadikan sebagai bahan introspeksi bagi guru dalam hal cara mengajar yang telah dilakukannya.
6)   Metode ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya.
Kelemahan Metode Tanya Jawab
1)   Siswa sering merasa takut, apalagi kalau guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani dengan menciptakan suasana yang tidak tegang dan akrab.
2)   Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.
3)   Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
4)   Guru masih tetap mendominasi proses belajar mengajar. Biasanya guru kurang terbuka, dalam arti ingin jawaban siswa selalu sesuai dengan keinginannya.
5)   Siswa yang tidak biasa atau salah menjawab pada waktu itu belum tentu ia bodoh, siapa tahu karena disebabkan oleh tergesa-gesa menjawab, kurang waktu untuk memikirkan jawaban, atau kurang mempelajari materi yang sedang atau telah dibahas pada waktu lain.
6)   Apabila jumlah siswa puluhan, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa. Sering jawaban diborong oleh sejumlah kecil siswa yang menguasai dan senang berbicara, sedangkan banyak siswa lainnya tidak memikirkan jawabannya.
7)   Dengan tanya jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok   persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.

7.    Teknik Pembelajaran Penugasan
Metode resitasi atau penugasan adalah pemberian tugas kepada siswa di luar jadwal sekolah atau diluar jadwal pelajaran yang pada akhirnya dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan. Metode resitasi terstruktur merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas. Pemberian tugas ini merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan pelaksanaan metode resitasi terstruktur yaitu :
1)   Tugas yang diberikan harus jelas.
2)   Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas harus jelas.
3)   Tugas yang diberikan terlebih dahulu dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa yang belum mampu memahami tugas itu berupaya untuk menyelesaikannya.
4)   Guru harus memberikan bimbingan utamanya kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar atau salah arah dalam mengerjakan tugas.
5)   Memberi dorongan terutama bagi siswa yang lambat atau kurang bergairah mengerjakan tugas.
Kelebihan Metode Penugasan / Resitasi
1)   Tugas lebih merangsang siswa untuk untuk belajar lebih banyak , baik pada waktu di kelas maupun di luar kelas.
2)   Metode ini dapat mengembangkan kemandiria siswa yang diperlukan kehidupan kelak.
3)   Tugas dapat lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam , memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari.
4)   Tugas dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengolah sendiri imformasi dan komunikasi.
5)   Metode ini dapat membuat siswa bergairah dalam belajar karena kegiatan belajar dilakukan dengan berbagai variasi sehingga tidak membosankan.
Kekurangan dari Metode Penugasan / Resitasi
1)   Siswa sulit dikontrol, apa benar mengerjakan tugas ataukan orang lain.
2)   Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.
3)   Sering memberikan tugas yang monoton, sehingga membosankan.
Dalam memberikan tugas yang baik, guru hendaklah memperhatikan dan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1)   Materi tugas yang diberikan atau pekerjaan yang perlu diselesaikan oleh siswa haraus jelas.
2)   Tujuan tugas yang diberikan akan lebih baik apabila dijeaskan kepada siswa.
3)   Apabila tugas kelompok , seyogyanya ada ketua dan anggota kelompok sesuai dengan kebuituhan agar ada yang bertanggung jawab.
4)   Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas hendaknya jelas.

8.    Teknik Pembelajaran Karya Ilmiah
Secara singkat karya tulis ilmiah dapat didefinisikan sebagai laporan tertulis tentang (hasil) suatu kegiatan ilmiah. Definisi yang lebih kompleks dapat dikemukakan bahwa karya tulis ilmiah merupakan suatu tulisan yang membahas suatu masalah berdasarkan penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian, baik penelitian lapangan, tes laboratorium, ataupun kajian pustaka yang didasarkan pada pemikiran (metode) ilmiah yang logis dan empiris.
Karya tulis ilmiah dapat dipilah dalam dua kelompok yaitu:
1)   Karya tulis ilmiah yang merupakan laporan hasil pengkajian/penelitian.
2)   Karya tulis ilmiah yang berupa tinjauan/ulasan/ gagasan ilmiah.
Meskipun keduanya berbeda, namun sebagai tulisan yang bersifat ilmiah terdapat beberapa ciri yang menunjukkan kesamaan antara lain:
1)   Hal yang dipermasalahkan berada pada kawasan pengetahuan keilmuan kebenaran isinya mengacu kepada kebenaran ilmiah kerangka sajiannya mencerminan penerapan metode ilmiah tampilan fisiknya sesuai dengan tata cara penulisan karya.
2)   Karya tulis ilmiah dapat disajikan dalam bentuk laporan penelitian, artikel ilmiah di jurnal, artikel ilmiah popular di media massa, makalah seminar, buku, diktat, modul, maupun karya terjemahan.
3)   Banyak pilihan bagi guru dalam mengembangkan profesinya melalui karya tulis ilmiah.
4)   Karya Tulis Ilmiah Hasil Penelitian Karya tulis ilmiah penelitian yang diprioritaskan bagi guru adalah penelitian yang terkait langsung dengan tugas pokok dan fungsinya serta berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
Dalam hal ini terdapat dua macam penelitian yang dapat dilakukan sesuai tujuan tersebut yaitu:
1)   Penelitian eksperimen
2)   Penelitian tindakan kelas (PTK)
Penelitian eksperimen dilakukan untuk mengetes suatu hipotesis dengan ciri khusus:
1)   Adanya variabel bebas yang dimanipulasi.
2)   Adanya pengendalian atau pengontrolan terhadap semua variabel lain kecuali variabel bebas yang dimanipulasi.
3)   Adanya pengamatan dan pengukuran terhadap variabel terikat sebagai akibat dari tindakan manipulasi variabel bebas.
Secara rinci kerangka (PTK) tersebut adalah sebagai berikut:
1)   Halaman judul;
2)   Lembaran persetujuan dan pernyataan dari kepala sekolah yang menyatakan keaslian tulisan dari si penulis;
3)   Pernyataan dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan diperpustakannya;
4)   Pernyataan keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangi oleh penulis;
5)   Kata pengantar;
6)   Daftar isi;
7)   Abstrak atau ringkasan;
8)   Bagian Isi terdiri dari beberapa bab yakni :
a.    (Bab I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;
b.    (Bab II) Kajian /Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian tindakan;
c.    (Bab III) Metode Penelitian atau Metodologi Penelitian yang menjelaskan tentang prosedur penelitian;
d.   (Bab IV) Hasil penelitian dan pembahasan serta mengemukakan gambaran tentang pelaksanaan tindakan, dimulai dari setting atau pengaturan siswa, penjelasan umum jalannya pembelajaran diikuti penjelasan siklus demi siklus;
e.    (Bab V) Simpulan dan Saran-Saran. Bagian Penunjang yang pada umumnya terdiri dari sajian daftar pustaka dan lampiranlampiran yang diperlukan untuk menunjang isi laporan.
9)   Lampiran utama yang harus disertakan :
a.    Semua instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan.
b.    Contoh-contoh hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa.
c.    Dokumen pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan lain-lain.



9.    Teknik Pembelajaran Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210). Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah, 2000:22). Sementara menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.
Kelebihan Metode Demonstrasi
1)   Perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingg hal yang penting itu dapat diamati secara teliti. Di samping itu, perhatian siswa pun lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar mengajar dan tidak kepada yang lainya.
2)   Dapat membimbing siswa ke arahberpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
3)   Ekonmis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek.
4)   Dapat mengurangi kesalahan-kesalahn bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaan yang jelas dari hasil pengamatannya.
5)   Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
6)   Beberapa persoalan yang menimbulkan petanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.
Kekurangan Metode Demonstrasi
1)   Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau mengamati keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan kadang-kadang terjadiperubahan yang tidak terkontrol.
2)   Untuk mengadakan demonstrasi digunakan ala-alat yang khusus, kadang-kadang alat itu susah didapat. Demonstrasi merupakan metode yang tidak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati secara seksama.
3)   Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang didemonstrasikan diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini banyak diabaikan leh peserta didik.
4)   Tidak semua hal dapatdidemonstrasikan di kelas.
5)   Memerlukan banyak waku sedangkan hasilnya kadang-kadang sangat minimum.
6)   Kadang-kadang hal yang didemonstrasikan di kelas akan berbeda jika proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata atau sebenarnya.
7)   Agar demonstrasi mendapaptkan hasil yang baik diperlukan ketekitian dan kesabaran.