Tugas Strategi
Belajar Mengajar
Penjelasan
dan Ilustrasi Tentang Berbagai Teknik Pembelajaran
1.
Teknik
Pembelajaran Inquiry
Pembelajaran
inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang
melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis,
logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan
penuh percaya diri. Pembelajaran
inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran
tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam pembelajaran ini adalah
mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran, sedangkan guru berperan sebagai
fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar. Pembelajaran inkuiri merupakan
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan
analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya
jawab antara guru dan siswa. Pembelajaran ini sering juga dinamakan
pembelajaran heuristic, yang
berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein
yang berarti “saya menemukan”.
Ciri-ciri Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran
inkuiri memiliki beberapa ciri, di antaranya:
1) Pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk
mencari dan menemukan. Artinya, pada pembelajaran inkuiri menempatkan siswa
sebagai subjek belajar.
2) Seluruh aktivitas yang dilakukan
siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang
dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self
belief).
3) Tujuan dari pembelajaran inkuiri
adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis,
atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran
inkuiri mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini:
1) Berorientasi
pada Pengembangan Intelektual
2) Prinsip
Interaksi
3) Prinsip
Bertanya
4) Prinsip
Belajar untuk Berpikir
5) Prinsip
Keterbukaan
Langkah-Langkah
Pelaksanaan Pembelajaran Inkuiri
Proses pembelajaran inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai
berikut:
1) Merumuskan
masalah;
a. Kesadaran terhadap masalah
b. Melihat pentingnya masalah
c. Merumuskan masalah
2) Mengembangkan
hipotesis;
a. Menguji dan menggolongkan data yang
dapat diperoleh
b. Melihat dan merumuskan hubungan yang
ada secara logis
c. Merumuskan hipotesis
3) Menguji
jawaban tentatif;
a. Merakit peristiwa
Ø Mengidentifikasi peristiwa yang
dibutuhkan
Ø Mengumpulkan data
Ø Mengevaluasi data
b. Menyusun data
Ø Mentranslasikan data
Ø Menginterpretasikan data
Ø Mengkasifikasikan data
c. Analisis data
Ø Melihat hubungan
Ø Mencatat persamaan dan perbedaan
Ø Mengidentifikasikan trend, sekuensi,
dan keteraturan.
4) Menarik
kesimpulan;
a. Mencari pola dan makna hubungan
b. Merumuskan kesimpulan
5) Menerapkan
kesimpulan dan generalisasi
Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran inkuiri merupakan
pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena memiliki beberapa keunggulan,
di antaranya:
1) Pembelajaran ini merupakan
pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui pembelajaran
ini dianggap jauh lebih bermakna.
2) Pembelajaran ini dapat memberikan
ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
3) Pembelajaran ini merupakan strategi
yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang
menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman.
4) Keuntungan lain adalah dapat
melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya,
siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa
yang lemah dalam belajar.
Di samping memiliki keunggulan,
pembelajaran ini juga mempunyai kelemahan, di antaranya:
1) Sulit mengontrol kegiatan dan
keberhasilan siswa.
2) Sulit dalam merencanakan
pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
3) Kadang-kadang dalam
mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
4) Selama kriteria keberhasiJan belajar
ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka
strategi ini tampaknya akan sulit diimplementasikan.
2.
Teknik
Pembelajaran Konstruktivisme
Model pembelajaran
konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang
menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan
terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui
pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil
interaksi dengan lingkungannya. Konstruktivisme merupakan pandangan
filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Giambatista Vico tahun 1710, ia
adalah seorang sejarawan Italia yang mengungkapkan filsafatnya dengan berkata
”Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan”. Dia
menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti “mengetahui bagaimana membuat
sesuatu”. Ini berarti bahwa seseorang baru mengetahui sesuatu jika ia dapat
menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun sesuatu itu (Suparno, 1997:24).
Konstruktivisme dalam
pembelajaran adalah suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif
secara mental, membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur kognitif
yang dimilikinya. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator
pembelajaran. Penekanan tentang belajar dan mengajar lebih berfokus terhadap
suksesnya siswa mengorganisasi pengalaman mereka. Menurut Werrington
(dalam Suherman, 2003:75), menyatakan bahwa dalam kelas konstruktivis seorang
guru tidak mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan persoalan, namun
mempresentasikan masalah dan mendorong siswa untuk menemukan cara mereka
sendiri dalam menyelesaikan permasalahan. Ketika siswa memberikan jawaban, guru
mencoba untuk tidak mengatakan bahwa jawabannya benar atau tidak benar. Namun
guru mendorong siswa untuk setuju atau tidak setuju kepada ide seseorang dan
saling tukar menukar ide sampai persetujuan dicapai tentang apa yang dapat
masuk akal siswa.
Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran
yang konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu sebagai berikut:
1)
Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau
pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
2)
Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang
dunia.
3)
Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna
dikembangkan berdasarkan pengalaman.
4)
Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan
(negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan
dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Konstruktivisme
Menurut Suparno (1997:49) secara garis
besar prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil:
1) Pengetahuan
dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial;
2) Pengetahuan
tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri
untuk bernalar;
3) Siswa
aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep
menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah;
4) Guru
berperan membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa
berjalan mulus.
Langkah-Langkah Pelaksanaan Pembelajaran Konstruktivisme
1) Tanya Jawab (questioning)
a. Menggali informasi
b. Mengecek
pemahaman siswa
c. Membangkitkan
respon kepada siswa
d. Mengetahui
sejauh mana keinginan siswa
e. Mengetahui
hal-hal yang sudah diketahui siswa
f. Memfokuskan
perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
g. Membangkitkan
lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
h. Menyegarkan
kembali pengetahuan siswa
2) Penyelidikan/Menemukan (Inquiry)
a. Perumusan
masalah
b. Pengembangan
hipotesis
c. Pengumpulan
data
d. Pengolahan
data
e. Pengujian
hipotesis
f. Penarikan
kesimpulan
3) Komunitas Belajar (Learning Community)
a.
Siswa didorong
dan diberi motivasi agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep dari
pokok bahasan atau sub pokok bahasan yang akan dibahas.
b.
Siswa diberi
kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep-konsep dan
permasalahan-permasalahan melalui pengumpulan dan pengorganisasian dan
penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang guru.
c.
Siswa
memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada observasinya ditambah
dengan penjelasan-penjelasan guru untuk menguatkan pengetehuan siswa yang telah
mereka bangun, maka siswa membangun pengetahuan dan pemahaman baru tentang
konsep yang sedang dipelajari.
d.
Guru
berusaha menciptkan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat
mengaplikasikan pemahaman konsepnya tentang topik pelajaran saat itu.
Keuntungan dan Kelemahan Pembelajaran Konstruktivisme
Keuntungan yang terdapat dalam penggunaan model
konstruktivisme yaitu :
1)
Dapat memberikan kemudahan kepada siswa dalam
mempelajari konsep pembelajaran.
2)
Melatih siswa berpikir kritis dan kreatif.
Kelemahan pembelajaran konstruktivisme adalah :
1)
Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak
jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para
ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.
2)
Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun
pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap
siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
3)
Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena
tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan
kreatifitas siswa.
3.
Teknik Pembelajaran Sets atau Sains, Lingkungan,
Teknologi, dan Mayarakat
Kata SETS (Science
Environment Technology and Society) dapat dimaknakan sebagai sains, lingkungan,
teknologi, dan masyarakat, merupakan satu kesatuan yang dalam konsep pendidikan
mempunyai implementasi agar anak didik mempunyai kemampuan berpikir tingkat
tinggi (higher order thinking). Pendidikan SETS dapat diawali dengan
konsep-konsep yang sederhana yang terdapat di lingkungan sekitar kehidupan
sehari-hari peserta didik atau konsep-konsep rumit sains maupun non sains. Tujuan
Pendidikan SETS adalah untuk membantu peserta didik mengetahui sains,
perkembangan sains, teknologi-teknologi yang digunakannya, dan bagaimana
perkembangan sains serta teknologi mempengaruhi lingkungan serta masyarakat.
Pendidikan SETS berupaya memberikan pemahaman tentang peranan lingkungan
terhadap sains, teknologi, masyarakat. Sebaliknya peranan masyarakat terhadap
arah perkembangan sains, teknologi dan keadaan lingkungan. Termasuk juga
peranan teknologi dalam penyesuaiannya dengan sains, manfaatnya terhadap
masyarakat dan dampak-dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Tidak
ketinggalan peranan sains untuk melahirkan konsep-konsep yang berdaya guna
positif, keterlibatannya pada teknologi yang dipakai maupun pengaruhnya
terhadap masyarakat dan lingkungan secara timbal balik.
Pengertian Pendekatan SETS
Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dalam bahasa
Indonesia dikenal dengan sebutan saling temas yang merupakan sains, lingkungan,
teknologi, dan masyarakat. Asyari mengartikan pendekatan SETS sebagai suatu
pendekatan dalam pembelajaran sains yang mengaitkan dengan lingkungan,
teknologi, dan masyarakat sekitar. Pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta
didik mengetahui sains, perkembangan dan aplikasi konsep sains dalam kehidupan
sehari-hari. Pendekatan ini membahas tentang hal-hal yang bersifat nyata, yang
dapat dipahami, dapat dibahas, dan dapat dilihat. Menurut podjiaji (dalam
Tistanti) pembelajaran Sains Lingkungan Teknologi dan Masyarakat pada dasarnya
memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat
sekitar serta merupakan wahana untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan
sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi. Berdasarkan hal tersebut siswa
diharapkan dapat menerapkan pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan
sekitar untuk membuat teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Hubungan timbal balik unsur-unsur
SETS menurut Asy’ari, Masyarakat Ilmu Lingkungan (Science) Teknologi berdasarkan
keterkaitan antara sains, lingkungan teknologi dan masyarakat. Masing-masing
unsur dalam pendekatan SETS tidak dapat dipisahkan. Penerapan pendekatan SETS
Fokus pendekatan SETS meliputi belajar di (in), untuk (for), tentang (about)
lingkungan, dengan mencoba menemukan dan mengungkap penyebab permasalahan serta
kemungkinan yang dapat menyebabkan permasalahan lingkungan masa mendatang.
Dalam hal ini diutamakan pada dampak-dampak yang timbul akibat sains dan
teknologi dalam usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pendekatan SETS
menekankan pada peserta didik untuk learning to know, learning to do, learning
to be, learning to live together. Siswa aktif dalam pembelajaran dan guru
berfungsi sebagai fasilitator. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
membelajarkan SETS di sekolah yaitu :
1) Topik yang
dipilih hendaknya memunculkan sains yang telah dikenal dalam kurikulum dan
dititik beratkan pada keterkaitan hubungan dengan teknologi, lingkungan maupun
masyarakat.
2) Hendaknya
diberikan materi pengajaran yang dapat menyentuh rasa kepedulian tentang
keberadaan sains, teknologi, dan masyarakat sebagai suatu kesatuan yang tidak
terpisah.
3) Pemilihan
materi ajar hendaknya yang dapat membawa peserta didik sadar ilmu pengetahuan
(sains), mengeterapkan teknologi dan berbagai dampaknya terhadap lingkungan
baik positif maupun negatif sehingga timbul kepedulian dan rasa tanggung jawab
siswa dalam memecahkan masalah lingkungan dan masyarakat.
4) Bahan
evaluasi hendaknya menerapkan sains, teknologi, masyarakat, dan lingkungan yang
relevan bagi siswa.
Adapun karakteristik pemebelajaran SETS menurut Yager
dalam (Tristanti) sebagai berikut :
1) Berawal dari
identifikasi masalah lokal.
2) Penggunaan
sumber daya setempat.
3) Keikutsertaan
siswa aktif dalam mencari informasi yang dapat diterapkan untuk memecahkan masalah
dalam kehidupan sehari-hari.
4) Penekanan
pada keterampilan proses yang dapatdigunakan siswa dalam pemecahan masalah.
5) Adanya
kesempatan bagi siswa untuk memperoleh pengalaman memecahkan masalah yang telah
diidentifikas berorientasi pada siswa.
Berdasarkan karakteristik tersebut,
guru hendaknya dapat menggiring siswa untuk berpikir aktif dalam upaya
pemecahan masalah lokal yang berangkat dari pengalaman keseharian siswa.
Penerapan SETS dalam pembelajaran oleh guru hendaknya dimunculkan berbagai
variasi pemebelajaran yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang ingin
dicapai dalam pembelajaran tersebut. Setiap siswa berpeluang untuk memunculkan
solusi pemecahan masalah yang berbeda-beda.
Tahap-tahap pendekatan SETS Secara operasional
National Science Teacher Association menyusun tahapan pembelajaran sains dengan
pendekatan SETS sebagai berikut :
1) Tahap
invitasi pada tahap ini guru memberikan isu/ masalah aktual yang sedang
berkembang di masyarakat sekitar yang dapat dipahami peserta didik dan dapat
merangsang siswa untuk mengatasinya. Guru juga bisa menggali pendapat dari
siswa yang ada kaitannya dengan materi yang akan dibahas.
2) Tahap
eksplorasi Siswa melalui aksi dan reaksinya sendiri berusaha memahami atau
mempelajari masalah yang diberikan.
3) Tahap solusi
Siswa menganalisis dan mendiskusikan cara pemecahan masalah.
4) Tahap
aplikasi Siswa diberi kesempatan untuk menggunakan konsep yang telah diperoleh.
Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul
dalam tahap invitasi.
5) Tahap
pemantapan konsep guru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang
diperoleh siswa.
Kelebihan SETS Menurut Ismail pendekatan SETS memiliki
keunggulan sebagai berikut :
1) Menghindari
materi oriented dalam pendidikan tanpat tahu masalah-masalah di masyarakat
secara lokal, nasional, maupun internasional.
2) Mempunyai
bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era globalisasi.
3) Membekali
peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah-masalah dengan penalaran
sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat secara integral baik di dalam
ataupun di luar kelas.
4) Pengajaran
sain lebih bermakna karena langsung berkaitan dengan permasalahan yang muncul
di kehidupan keseharian siswa tentang pernanan sains dalam kehidupan nyata.
5) Meningkatkan
kemampuan siswa untuk mengaplikasikan konsep, ketrampilan, proses, kreativitas,
dan sikap meghargai produk teknologi serta bertanggung jawab atas masalah yang
muncul di lingkungan.
6) Kegiatan
kelompok dapat memupuk kerjasama antar siswa dan sikap toleransi dan saling
menghargai pendapat teman.
7) Mengaplikasikan
suatu gagasan atau penciptaan suatu karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat
maupun bagi perkembangan sains dan teknologi.
4.
Teknik
Pembelajaran Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah adalah sebuah metode pembelajaran yang berupaya membahas
permasalahan untuk mencari pemecahan
atau jawabannya. Sebagaimana metode mengajar, metode pemecahan masalah
sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada para siswa. Dengan metode ini,
siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah. Model atau Metode pembelajaran berbasis masalah
atau metode pemecahan masalah (Problem Solving) adalah
sebuah metode pembelajaran yang berupaya membahas permasalahan untuk
mencari pemecahan atau jawabannya. Sebagaimana metode mengajar, metode
pemecahan masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada para siswa.
Dengan metode ini, siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut prosedur
kerja metode ilmiah.
Langkah-langkah Metode Pemecahan Masalah
Dalam garis besarnya
langkah-langkah metode pemecahan masalah dapat disarikan sebagai berikut:
1)
Adanya
masalah yang dipandang penting;
2)
Merumuskan
masalah;
3)
Analisa
hipotesa;
4)
Mengumpulkan
data;
5)
Analisa
data;
6)
Mengambil
kesimpulan
7)
Aplikasi
(penerapan) dari kesimpulan yang diperoleh;
8)
Menilai
kembali seluruh proses pemecahan masalah.
Langkah-langkah
penyelesaian masalah antara lain adalah :
1)
Memahami
soal
2)
Memilih
pendekatan atau strategi
3)
Menyelesaikan
model
4)
Menafsirkan
solusi
Kelebihan Metode Pembelajaran Berbasis Masalah
/ Problem Solving
Kelebihan Menggunakan Metode pembelajaran Berbasis Masalah
atau Metode Problem Solving :
1)
Pembelajaran
berbasis masalah atau Problem Solving akan
terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik yang belajar memecahkan suatu
masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha
mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan
dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep
diterapkan.
2)
Dalam Problem Solving, peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan
ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.
3)
Metode Problem
Solving dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik didik dalam bekerja, motivasi
internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam
bekerja kelompok.
5.
Teknik
Pembelajaran Diskusi
Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok
siswa, berbicara saling bertukar informasi maupun pendapat tentang sebuah topik
atau masalah, dimana setiap anak ingin mencari jawaban / penyelesaian problem
dari segala segi dan kemungkinan yang ada. Metode
diskusi adalah cara penyajian pembelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan
kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat
problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Metode diskusi adalah suatu
cara penyajian bahan pelajaran dengan menugaskan peserta didik atau kelompok
belajara untuk melaksanakan percakapan ilmiah untuk mencari kebenaran dalam
rangka mewujudkan tujuan pengajaran. Metode diskusi
adalah format belajar mengajar yang menitik beratkan
kepada interaksi antara anggota yang lain dalam suatu
kelompok guna menyelesaikan tugas belajar secara bersama. Karena itu,
guna dituntut untuk mampu melibatkan keaktifan anak
bekerjasama dan berkolaborasi dalam kelompok. Metode diskusi adalah cara
penyajian pelajaran dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang dapat
berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan
dipecahkan bersama.
Langkah-langkah penggunaan metode diskusi adalah sebagai berikut:
1) Taraf persiapan meliputi:
a. Memilih dan menetapkan topik atau
tema sekurang-kurangnya, mengidentifikasi masalah yang merupakan alternative
untuk dipilih dan didiskusikan.
b. Mengidentifikasi dan menetapkan satu
atau beberapa sumber bahan bacaan atau informasi yang hendak dipelajari oleh
siswa, sehingga kalau memasuki arena diskusi diharapkan telah membawa bahan pemikiran.
c. Menetapkan atau menyediakan
alternatif komposisi dan struktur komonikasi kelompok diskusi.
d. Menetapkan atau menyediakan
alternatif pemimpin diskusi pada
guru atau siswa.
2) Siswa membentuk
kelompok-kelompok diskusi memilih
pimpinan diskusi (ketua,
sekretaris, pelapor) mengatur tempat duduk, ruangan, dan sebagainya dengan
bimbingan guru.
3) Siswa berdiskusi dalam kelompoknya
masing-masng, sedangkan guru berkeliling dari kelompok yang satu ke kelompok
yang lain, menjaga ketertiban, serta memberikan dorongan dan bantuan agar
anggota kelompok berpartisipasi aktif dan diskusi dapat berjalan lancar. Setiap siswa hendaknya,
mengetahui secara persis apa yang akan didiskusikan dan bagaimana caranya berdiskusi.
4) Setiap kelompok harus
melaporkan hasil diskusinya.
Hasil diskusi dilaporkan
ditanggapi oleh semua siswa, terutama dari kelompok lain. Guru memberikan
ulasan atau penjelasan terhadap laporan tersebut.
5) Akhirnya siswa mencatat hasil diskusi, sedangkan guru menyimpulkan
laporan hasil diskusi dari
setiap kelompok
Secara umum kelebihan dan kekurangan metode diskusi adalah sebaga berikut :
Kelebihan Metode Diskusi
6) Merangsang kreativitas siswa dalam
bentuk ide, gagasan – prakarsa, dan terobosan baru dalam pemecahan suatu
masalah.
7) Mengembangkan sikap menghargai
pendapat orang lain.
8) Memperluas wawasan.
9) Membina untuk terbiasa musyawarah
untuk memperkuat dalam memecahkan.
Kekurangan Metode Diskusi
1) Tidak dapat dipakai pada kelompok
yang besar.
2) Pembicaraan terkadang menyimpang,
sehingga memerlukan waktu yang panjang.
3) Mungkin dikuasai oleh orang-orang
yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri.
6.
Teknik
Pembelajaran Tanya – Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada
siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Hal ini sejalan dengan
pendapat Sudirman (1987:120) yang mengartikan bahwa “metode tanya jawab adalah cara
penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan
yang harus dijawab, terutama
dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada
guru.” Lebih lanjut dijelaskan pula oleh Sudirman (1987:119)
menyatakan bahwa metode tanya jawab
ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk
mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai
sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia,
laboratorium, video, masyarakat, alam, dan sebagainya. Sementara itu, dalam
Petunjuk Teknis Kurikulum 1994 (1996:26) dinyatakatan bahwa “metode tanya jawab adalah suatu cara
mengajar atau menyajikan materi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang
mengarahkan siswa memahami materi tersebut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode tanya jawab adalah:
1)
Materi menarik dan menantang serta memiliki nilai
aplikasi tinggi.
2)
Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup
(pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka
(pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban).
3)
Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaan
jawaban-jawaban siswa.
4)
Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik.
Berdasarkan pembahasan di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa metode tanya
jawab adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara
pengajuan-pengajuan pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk memahami materi
pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk menghindari penyimpangan dari pokok persoalan,
penggunaan metode tanya jawab harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
1)
Merumuskan tujuan tanya jawab
sejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku
siswa.
2)
Mencari alasan pemilihan metode tanya jawab.
3)
Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.
4)
Menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
5)
Menyediakan kesempatan bertanya bagi siswa.
Prinsip Metode Tanya Jawab
1)
Penyebaran (distribution)
2)
Pemberian waktu berfikir (pausing)
3)
Penggunaan pertanyaan
pelacak (probbing)
Adapun teknik pelacak yang dapat digunakan adalah
sebagai berikut :
a.
Klasifikasi
b.
Meminta siswa memberikan alasan
c.
Meminta kesepakatan pandangan
d.
Meminta ketepatan jawaban
e.
Meminta jawaban
yang lebih relevan
f.
Meminta Contoh
g.
Meminta jawaban
yang lebih kompleks
Kelebihan Metode Tanya Jawab
1)
Pertanyaan
dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Bahkan siswa yang sedang ribut
sekalipun, apabila guru melontarkan sebuah pertanyaan, biasanya keributan langsung berubah menjadi tenang
kembali. Siswa yang mengantuk, biasanya segera kembali tegar dan hilang
kantuknya.
2)
Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya
pikir termasuk daya ingatnya.
3)
Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam
menjawab dan mengemukakan
pendapat.
4)
Metode ini dapat
mengetahui kemampuan berpikir siswa dan kesistematisannya dalam mengemukakan
pokok-pokok pikiran dalam jawabannya.
5)
Metode ini dapat
mengetahui sampai sejauh mana penguasaan siswa tentang apa yang sedang dan atau
telah dipelajari. Dengan demikian, dapat pula dijadikan sebagai bahan
introspeksi bagi guru dalam hal cara mengajar yang telah dilakukannya.
6)
Metode ini dapat
dijadikan sebagai pendorong dan pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan
penelusuran lebih lanjut (dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar
seperti buku, majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video,
masyarakat, alam, dan sebagainya.
Kelemahan Metode Tanya Jawab
1)
Siswa sering merasa takut, apalagi kalau guru kurang
dapat mendorong siswa untuk berani dengan menciptakan suasana yang tidak tegang
dan akrab.
2)
Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami
siswa.
3)
Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa
tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
4)
Guru masih tetap mendominasi proses belajar mengajar.
Biasanya guru kurang terbuka, dalam arti ingin jawaban siswa selalu sesuai dengan keinginannya.
5)
Siswa yang tidak biasa atau salah menjawab pada waktu itu belum tentu ia
bodoh, siapa tahu karena disebabkan oleh tergesa-gesa menjawab, kurang waktu untuk memikirkan jawaban, atau kurang mempelajari
materi yang sedang atau telah dibahas pada waktu lain.
6)
Apabila jumlah siswa puluhan, tidak mungkin cukup
waktu untuk memberikan pertanyaan
kepada setiap siswa. Sering jawaban
diborong oleh sejumlah kecil siswa yang menguasai dan senang berbicara,
sedangkan banyak siswa lainnya tidak memikirkan jawabannya.
7)
Dengan tanya jawab
kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok persoalan bila
dalam mengajukan pertanyaan,
siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang
dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat
persoalan baru.
7.
Teknik
Pembelajaran Penugasan
Metode resitasi atau penugasan adalah
pemberian tugas kepada siswa di
luar jadwal sekolah atau diluar jadwal pelajaran yang pada akhirnya
dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan. Metode resitasi
terstruktur merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item
tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian item tes
ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada
akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas. Pemberian tugas ini merupakan salah satu
alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus.
Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan
sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya kegiatan
pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi
pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan kegiatan belajar
mengajar tersebut.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan
pelaksanaan metode resitasi terstruktur yaitu :
1)
Tugas yang
diberikan harus jelas.
2)
Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas harus jelas.
3)
Tugas yang
diberikan terlebih dahulu dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa
yang belum mampu memahami tugas
itu berupaya untuk menyelesaikannya.
4)
Guru harus memberikan bimbingan utamanya kepada siswa
yang mengalami kesulitan belajar atau salah arah dalam mengerjakan tugas.
5)
Memberi dorongan terutama bagi siswa yang lambat atau
kurang bergairah mengerjakan tugas.
Kelebihan Metode Penugasan / Resitasi
1)
Tugas lebih
merangsang siswa untuk untuk belajar lebih banyak , baik pada waktu di kelas
maupun di luar kelas.
2)
Metode ini dapat
mengembangkan kemandiria siswa yang diperlukan kehidupan kelak.
3)
Tugas dapat
lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam ,
memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari.
4)
Tugas dapat
membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengolah sendiri imformasi dan
komunikasi.
5)
Metode ini dapat
membuat siswa bergairah dalam belajar karena kegiatan belajar dilakukan dengan
berbagai variasi sehingga tidak membosankan.
Kekurangan
dari Metode Penugasan / Resitasi
1)
Siswa sulit dikontrol, apa benar mengerjakan tugas ataukan orang lain.
2)
Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.
3)
Sering memberikan tugas yang monoton, sehingga membosankan.
Dalam memberikan tugas yang baik, guru hendaklah memperhatikan dan menempuh
langkah-langkah sebagai berikut:
1)
Materi tugas yang
diberikan atau pekerjaan yang perlu diselesaikan oleh siswa haraus jelas.
2)
Tujuan tugas yang
diberikan akan lebih baik apabila dijeaskan kepada siswa.
3)
Apabila tugas kelompok
, seyogyanya ada ketua dan anggota kelompok sesuai dengan kebuituhan agar ada
yang bertanggung jawab.
4)
Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas hendaknya jelas.
8.
Teknik
Pembelajaran Karya Ilmiah
Secara singkat karya
tulis ilmiah dapat didefinisikan sebagai laporan tertulis tentang (hasil) suatu
kegiatan ilmiah. Definisi yang lebih kompleks dapat dikemukakan bahwa karya
tulis ilmiah merupakan suatu tulisan yang membahas suatu masalah berdasarkan
penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian,
baik penelitian lapangan, tes laboratorium, ataupun kajian pustaka yang
didasarkan pada pemikiran (metode) ilmiah yang logis dan empiris.
Karya tulis ilmiah dapat dipilah dalam
dua kelompok yaitu:
1) Karya
tulis ilmiah yang merupakan laporan hasil pengkajian/penelitian.
2) Karya
tulis ilmiah yang berupa tinjauan/ulasan/ gagasan ilmiah.
Meskipun keduanya berbeda, namun sebagai
tulisan yang bersifat ilmiah terdapat beberapa ciri yang menunjukkan kesamaan
antara lain:
1) Hal
yang dipermasalahkan berada pada kawasan pengetahuan keilmuan kebenaran isinya
mengacu kepada kebenaran ilmiah kerangka sajiannya mencerminan penerapan metode
ilmiah tampilan fisiknya sesuai dengan tata cara penulisan karya.
2) Karya
tulis ilmiah dapat disajikan dalam bentuk laporan penelitian, artikel ilmiah di
jurnal, artikel ilmiah popular di media massa, makalah seminar, buku, diktat,
modul, maupun karya terjemahan.
3) Banyak
pilihan bagi guru dalam mengembangkan profesinya melalui karya tulis ilmiah.
4) Karya
Tulis Ilmiah Hasil Penelitian Karya tulis ilmiah penelitian yang diprioritaskan
bagi guru adalah penelitian yang terkait langsung dengan tugas pokok dan
fungsinya serta berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
Dalam hal ini terdapat dua macam
penelitian yang dapat dilakukan sesuai tujuan tersebut yaitu:
1) Penelitian
eksperimen
2) Penelitian
tindakan kelas (PTK)
Penelitian eksperimen dilakukan untuk
mengetes suatu hipotesis dengan ciri khusus:
1) Adanya
variabel bebas yang dimanipulasi.
2) Adanya
pengendalian atau pengontrolan terhadap semua variabel lain kecuali variabel
bebas yang dimanipulasi.
3) Adanya
pengamatan dan pengukuran terhadap variabel terikat sebagai akibat dari tindakan
manipulasi variabel bebas.
Secara rinci kerangka (PTK) tersebut
adalah sebagai berikut:
1) Halaman
judul;
2) Lembaran
persetujuan dan pernyataan dari kepala sekolah yang menyatakan keaslian tulisan
dari si penulis;
3) Pernyataan
dari perpustakaan yang menyatakan bahwa makalah tersebut telah disimpan
diperpustakannya;
4) Pernyataan
keaslian tulisan yang dibuat dan ditandatangi oleh penulis;
5) Kata
pengantar;
6) Daftar
isi;
7) Abstrak
atau ringkasan;
8) Bagian
Isi terdiri dari beberapa bab yakni :
a. (Bab
I) Pendahuluan yang menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Perumusan
Masalah dan Cara Pemecahan Masalah melalui rencana tindakan yang akan
dilakukan, Tujuan dan Kemanfaatan Hasil Penelitian;
b. (Bab
II) Kajian /Tinjauan Pustaka yang berisi uraian tentang kajian teori dan
pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan penelitian
tindakan;
c. (Bab
III) Metode Penelitian atau Metodologi Penelitian yang menjelaskan tentang
prosedur penelitian;
d. (Bab
IV) Hasil penelitian dan pembahasan serta mengemukakan gambaran tentang
pelaksanaan tindakan, dimulai dari setting atau pengaturan siswa, penjelasan
umum jalannya pembelajaran diikuti penjelasan siklus demi siklus;
e. (Bab
V) Simpulan dan Saran-Saran. Bagian Penunjang yang pada umumnya terdiri dari
sajian daftar pustaka dan lampiranlampiran yang diperlukan untuk menunjang isi
laporan.
9) Lampiran
utama yang harus disertakan :
a. Semua
instrumen yang digunakan dalam penelitian, terutama lembar pengamatan.
b. Contoh-contoh
hasil kerja dalam pengisian/ pengerjaan instrumen baik oleh guru maupun siswa.
c. Dokumen
pelaksanaan penelitian yang lain seperti foto-foto kegiatan, daftar hadir, dan
lain-lain.
9.
Teknik
Pembelajaran Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah
pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada
penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh
peserta didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210). Metode
demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian,
aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun
melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau
materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah, 2000:22). Sementara menurut
Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah metode yang
digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang
berkenaan dengan bahan pelajaran. Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi
ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu
gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode
demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati
segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil
kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.
Kelebihan Metode Demonstrasi
1)
Perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang
dianggap penting oleh guru sehingg hal yang penting itu dapat diamati secara
teliti. Di samping itu, perhatian siswa pun lebih mudah dipusatkan kepada
proses belajar mengajar dan tidak kepada yang lainya.
2)
Dapat membimbing siswa ke arahberpikir yang sama dalam
satu saluran pikiran yang sama.
3)
Ekonmis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis
dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu
yang pendek.
4)
Dapat mengurangi kesalahan-kesalahn bila dibandingkan
dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaan yang
jelas dari hasil pengamatannya.
5)
Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak
memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
6)
Beberapa persoalan yang menimbulkan petanyaan atau
keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.
Kekurangan Metode Demonstrasi
1)
Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak
dapat melihat atau mengamati keseluruhan benda atau peristiwa yang
didemonstrasikan kadang-kadang terjadiperubahan yang tidak terkontrol.
2)
Untuk mengadakan demonstrasi digunakan ala-alat yang
khusus, kadang-kadang alat itu susah didapat. Demonstrasi merupakan metode yang
tidak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati secara seksama.
3)
Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang
didemonstrasikan diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini banyak diabaikan
leh peserta didik.
4)
Tidak semua hal dapatdidemonstrasikan di kelas.
5)
Memerlukan banyak waku sedangkan hasilnya
kadang-kadang sangat minimum.
6)
Kadang-kadang hal yang didemonstrasikan di kelas akan
berbeda jika proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata atau sebenarnya.
7)
Agar demonstrasi mendapaptkan hasil yang baik
diperlukan ketekitian dan kesabaran.